pandemi dan perubahan sosial

Pandemi dan Perubahan Sosial

Covid-19 memaksa manusia melakukan revolusi dalam segala aspek kehidupan, perhatian terhadap investasi teknologi kesehatan menjadi hal utama setelah bertahun-tahun para negara adidaya bersaing dalam perlombaan senjata.

Revolusi industri 4.0 tampaknya mengalami percepatan dengan tingginya aktivitas yang memaksa kita memanfaatkan teknologi informasi tatkala pemerintah menghimbau kita untuk di rumah saja dan bekerja dari rumah.

Khususnya di Indonesia, pandemi sudah berjalan hampir selama dua bulan dan diprediksi paling cepat berakhir di bulan juni. Ini ibarat kita sedang melakukan lari maraton, yaitu berada dalam keterbatasan dalam waktu yang panjang sembari berfikir tentang seni bertahan hidup di tengah pandemi dan pasca pandemi ini berakhir.

Dua faktor yang sangat terpukul kala pandemi ini adalah faktor kesehatan dan ekonomi. Kita tahu bahwa para petugas medis berjuang di garda depan untuk menangani pasien covid, dan kelompok masyarakat lain bersama pemerintah berjuang untuk kelompok ekonomi rentan agar tetap bisa bertahan hidup.

Bulan ini banyak gelontoran dana bantuan sebagai pengaman sosial yang meskipun bagi saya adalah langkah pendek untuk mengamankan kehidupan masyarakat, namun karena ini ibarat maraton yang bahkan kita belum tahu kapan berakhirnya, maka perlu kita siapkan langkah jangka menengah dan jangka panjang.

Bagi kita civitas pesantren, mungkin bisa menggagas program jangka menengah misalnya dengan menginisiasi aktivitas ketahanan pangan yaitu gerakan pemanfaatan lahan dengan menanam sayuran atau tanaman karbohidrat, atau dengan mewujudkan pos kesehatan pesantren yang memberikan pelayanan kesehatan kepada santri dan warga sekitar sebagai solusi atas himbauan bahwa jangan pergi ke puskesmas jika hanya sakit ringan.

Jangka panjang misalnya memikirkan ide untuk berperan aktif dalam inovasi ekonomi pasca pandemi ini, hal apa yang menjadi tren di hari ini hingga 1-2 tahun ke depan karena diprediksi vaksin Covid-19 ini paling cepat bisa ditemukan tahun depan. Bisa juga dengan peran aktif dalam upaya konservasi lingkungan sekitar agar tercipta keseimbangan ekosistem dan ekologi.

Last but not least, saya menutup sesi ini dengan kutipan dari Albert Camus dalam novel The Plague “meski virus tidak akan pernah benar-benar hilang dan manusia tidak akan pernah terhindar dari sakit, namun hidup yang berkualitas meski diperjuangkan.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *