Hari Puisi Indonesia

Peringatan Hari Puisi Indonesia, Santri yo ngaji yo Berpuisi

Hari Puisi Indonesia (HPI) diperingati setiap tanggal 26 Juli mengambil dari tanggal kelahiran Chairil Anwar, Penyair Indonesia angkatan 45 yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai pelopor puisi modern Indonesia.

Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto sebagai pesantren yang salah satu tujuannya adalah menciptakan kader dalam dunia kepenulisan, mempunyai atensi lebih terhadap pengembangan literasi santri baik melalui Komunitas Pondok Pena, Forum Blakasuta dan agenda Pesantren Menulis.

Meski di tengah masa pandemi covid-19, tidak menyurutkan semangat santri untuk menggelar perayaan ke delapan Hari Puisi Indonesia 2020 dengan Pementasan Baca Puisi yang dikemas dalam acara Malam Tadarus Puisi.

“Mengingat Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto merupakan pesantren kepenulisan, maka momentum ini dirasa perlu untuk dirayakan juga sebagai bentuk dukungan dan apresiasi serta sebagai wadah para santri untuk berkreativitas di bidang kesusastraan dengan membentuk desain acara yang kreatif,” kata Iis Sugiarti, selaku inisiator kegiatan tersebut.

Adapun tema yang dipilih adalah “Hari ini Ada Puisi”. Menurut Latif Chamdillah, santri yang juga mahasiswa kedokteran Unsoed menyampaikan bahwa tema tersebut dipilih sebagai pesan bahwa puisi haruslah diperingati setiap hari sebagai bagian dari diri kita.

HPI 2020 dilaksanakan di serambi Masjid Pesma An Najah yang diikuti oleh seluruh santri yang berada di pesantren. Acara tersebut juga disiarkan langsung di kanal youtube “Pesma An najah”. Tri Wahyudi selaku ketua panitia menyampaikan sebuah pesan dalam sambutannya bahwa Malam Tadarus Puisi ini diharapkan menjadi pemantik semangat para santri untuk belajar mencipta dan dapat mengapresiasi karya sastra, agar bisa mewarnai dunia kepenulisan di pesantren ataupun di kancah nasional, syukur bisa menjadi legenda seperti Chairil Anwar.

HPI 2020 dibuka dengan pembacaan puisi oleh pengasuh Pesma An Najah K.H., Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. yang berjudul “Alam di Hatiku” dan “Aku di Hapeku”, puisi ini merupakan karya beliau sendiri. Kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak dengan diiringi musikalisasi puisi “Dalam Doaku” karya Sapardi Djoko Damono sebagai wujud penghormatan kepada beliau, yang belum lama ini telah berpulang menghadap Yang Maha Puisi.

Pementasan Malam Tadarus Puisi, di antaranya menampilkan monolog puisi, musikalisasi puisi, teatrikal puisi adaptasi dari puisi “Dialog Bukit Kamboja” karya D. Zawawi Imron, dan hadrohisasi puisi yaitu pembacaan puisi diiringi tabuhan hadrah dan tembang shalawat, yang merupakan ciri khas dari Pesma An Najah Purwokerto.

Ada satu hal lagi yang spesial yaitu beberapa penampil membacakan puisi dengan bahasa yang berbeda – beda yaitu bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Arab, dan Inggris yang juga dikolaborasikan dengan seni tari tradisional. Ini membuat malam HPI 2020 yang tema globalnya adalah “Keberagaman dan Keindonesiaan” semakin menampilkan potret Indonesia yang berwajah pluralis.

Untuk tidak melepaskan diri dari karakter pesantren, malam tadarus puisi diawali dengan pembacaan suluk dan ditutup dengan pembacaan mahalul qiyam dan doa. Angin yang semilir dan terangnya langit menambah rasa syahdu dan khidmat bagi para penonton.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *