Sukmawati

Moderasi Islam Dalam Karya Sastra

Oleh: Hafizh Pandhitio

“Kebenaran dapat saja muncul dengan adanya kebenaran-kebenaran yang lain.”

Arif Hidayat (Sastra Tanpa Batas)

Terkadang orang berfikir dirinya lah yang terbaik, telah berfikir seusai dengan hukum sehingga menjatuhkan orang yang tidak satu pemikiran dengannya. Awal itulah yang menjadi pemecah dalam suatu kelompok. Dan orang-orang seperti itu biasanya dimanfaatkan orang untuk dijadikan kambing hitam oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Di zaman milenial ini banyak tersebar sekelompok orang seperti yang disebutkan. Semua serba instan, tinggal tanyakan lewat internet ketemulah jawaban yang menjadi dasar dalam menyalahkan orang lain yang tidak sependapat.

Dalam mencari ilmu tidaklah cukup mengerti satu argumentasi, satu pandangan dan dalam waktu yang singkat. Tidak disertainya guru dalam mencari ilmu juga suatu kesalahan, tidak ada penyertaan sudut pandang oleh orang yang memiliki ilmu lebih banyak, yang telah menjamur dan berakibat di zaman milenal tidak berfikiran moderat.

Begitu juga dalam memahami tentang sastra. Puisi merupakan sebagian dari banyaknya karya sastra yang sering menjadikan bahan kontroversial. Banyak orang yang dipidanakan dengan tuduhan pencemaran nama baik, penistaan agama atau yang lainnya.

Seperti puisi Sukmawati yang berjudul Ibu Indonesia yang sempat menjerat Sukmawati ke meja hijau atas tuduhan penistaan agama. Saat ini jika berbicara agama memang sangat berhati-hati, salah sedikit saja akan dihujat sana-sini tanpa melihat sudut pandang yang lebih luas dan berargumen tanpa dasar. Di saat itulah banyak orang yang menjadi ustadz atau ulama dadakan.

Di dalam puisinya, Sukmawati, seakan menyudutkan Syariat Islam, Cadar dan Adzan. Jika dibaca sesuai dengan bahasa saja memang demikian. Namun, Puisi ditulis bukan hanya sebuah keindangan bahasa yang menggetarkan perasaan semata, namun ada pengetahuan-pengetahuan yang diwacanakan oleh penyair.[1]

Seorang yang bijak akan mempertimbangkan segala sesuaunya dari segala segi agar nantinya tidak merugikan pihak tertentu. Adakalanya puisi bermakna sesuai dengan bahasa seadanya, namun tidak dapat dipungkiri puisi juga bisa bermakna tidak sesuai dengan bahasa yang dituliskan.

Karena sifat bahasa yang tidak mampu menampung realitas seutuhnya sehingga masih ada yang untuk dimaknai dari yang ditulis oleh penyair.[2] Setiap orang memang memiliki hak yang sama untuk mengartikan, tapi juga setiap orang tidak berhak mempermasalahkan penafsiran yang berbeda. Ini juga berlaku pada puisi Ibu Indonesia, orang-orang terlalu termakan emosi dan egonya dalam memaknai secara gambalang puisi yang dibacakan oleh Sukmawati dalam pergelaran Indonesia Fashion Week, dalam segmen Sekarayu Sriwedari menyambut 29 tahun karya Anne Avanti.

Ada sebuah gagasan yang ingin disampaikan oleh Sukmawati, salah satunya mengenai penggunaan hijab yang dibandingkan dengan kebudayaan Indonesia khusunya kebudayaan jawa. Di era milenial tidak sedikit orang yang berhijab tapi perilakunya tidak menggambarkannya. Mengenakan baju tertutup namun masih menonjolkan lekukan tubuh.

Mengenakan krudung tapi berhias di muka umum, yang bukan mahramnya, hingga menarik perhatian lawan jenis. Sukmawati menanyakan bagaimana tentang syariat Islam yang dipahami oleh anak milenial.

Berhijab sebagai trend fashion dianggap telah menjalankan syariat Islam. Seperti yang dia bandingkan dalam puisinya kebudayaan di Jawa pada zamannya, saat masih kental mengenakan konde, walaupun semua helai rambutnya terlihat namun sopan santun tetap dijaga dengan teguh. Menghormati yang lebih tua sangat diutamakan.

Keutamaan dalam berhijab seakan semakin tersingkirkan oleh sebagai mana bagus hijab yang mereka kenakan. Tujuan utama berhijab adalah menjaga dari perbuatan maksiat. Salah satu cara dalam menjaga dari perbuatan maksiat adalah dengan cara menutupi aurat. Ibnu Qasim Al Ghozzi berkata “Aurat wanita merdeka di dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Adapun aurat wanita di luar sholat adalah seluruh tubuhnya. Ketika sendirian aurat wanita adalah sebagaiman pria, yaitu antara pusar dan lutut.” (fathul Qarib, 1:116). Sebagaimana orang telah menutup auratnya namun dia tidak memiliki akhlak sia-sia mereka menutupnya.

Sebagai pandangan, dalam Islam Allah tidak mewajibkan seorang anak kecil untuk menutup auratnya sesuai dengan perintahnya. Namun pembentukan watak berupa akhlak merupakan keutaman yang harus diajarkan oleh orang tua kepada anaknya, sesuai dengan  perkataan imam Abu al-Hamid al-Ghazali,”Metode untuk mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya.

Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirnya padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya.

Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat.”(Ihya Ulum al-Din 3/72).  Selaras dengan itu maka hati dan pikiranlah yang perlu dihijabi lebih awal sebelum mereka menghijabi aurat yang sebenarnya.

Kembali dalam puisi Sukmawati, mengapa dia menggambarkan kebudayaan Jawa untuk membandingkan dengan syariat Islam. Bukan berarti juga kebudayaan Jawa lebih baik dari syariat Islam hanya saja prilaku  dari manusia itu sendiri dalam menjalakan. Pada kenyataannya dulu masyarakat jawa sebelum mengenal baik tentang bagaimana tata cara berhijab dengan baik mereka lebih dulu mengenal tentang tata cara berbudi pekerti dalam kehidupan.

Apakah kehormatan aurat, terutama wanita, ternodai? Tidak demikian. Rendahnya pelecehan seksual terhadap wanita menjadi salah satu buktinya. Budi luhur dalam hatinya yang menjaga dari perbuatan maksiat. Allah memberikan kebebasan kapada kita untuk taat terhadapnya, sebaliknya Allah juga memberikan keadilanNya atas janjinya kepada syaitan untuk menggoda manusia yang tidak taat terhadapnya.

Ketaatan seseorang hamba terhadap Tuhannya bukan hanya dilihat seberapa rapat dia menutup aurat. Namun bagaimana akhlak yang dia miliki. Menegakkan syariat Islam bukan dengan mengikuti kebudayaan Arab, memakai cadar, dan bersorban. Lebih baik memakai konde namun berbudi luhur daripada menggunakan kerudung melakukan perbuatan zina.

Puisi Ibu Indonesia ini menggunakan bahasa simbolik untuk mempresentasikan makna dari realitas. Idiom Islam hanya menjadi symbol dalam entitas sosial yang ada dalam puisi. Seperti dituturkan Wahyu Budiantoro “Relitas itu melampaui bahasa. Dalam karya sastra tidak bisa semuanya ditafsiri dan dijelaskan atas realitas yang terjadi.”. Islam yang moderat bukan hanya dalam menjalankan syariat Islam namun juga dalam menafsirkan suatu karya sastra yang menjelaskan keagungan Islam sebagai agama Allah.


[1] Arif Hidayat, Sastra Tanpa Batas (Purbalingga: Kaldera Institute, 2016), hlm. 145.

[2] Ibid.., hlm. 145.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *