Urgensi Sastra Pesantren

Oleh : Hafizh Pandhitio

Cara pandang masyrakat awam yang belum mengerti kehidupan pesantren menganggap dunia kepesantrenan menjadi sebuah penjara. Alangkah ironinya pandangan masyarakat jika menganggap pondok pesantren hanya sebatas bengkel, tempat memperbaiki orang-orang yang rusak (akhlaknya). Tidak salah juga jika dipahami, konsep pendidikan di pesantren dasarnya sebagai wadah pembentukan karakter sesorang menjadi lebih baik, mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Tidak dipandang hanya sebagai tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba, pencuri, atau orang-orang yang rusak moral dan akhlaknya, atau sering juga dibilang sampah masyarakat. Lebih tepatnya pondok pesantren merupakan tempat bahkan gudangnya berbagai ilmu pengetahuan.

Jika dilihat dari kulitnya saja, pesantren hanya terbatasi pengetahuan tentang agama saja. Kehidupan pesantren hanya dihabiskan untuk beribadah. Dan menganggap santri sebagai orang yang kurang sosial dan tertinggal dengan perkembangan zaman, bahkan tidak banyak yang memandang santri lemah akan ilmu pengetahuan umum. Agama islam merupakan agama yang dibawa oleh seorang yang sempurna, Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad mendapat mujizat berupa diturunkan kepadanya al-Quran, kitab yang sempurna dan yang menyempurnakan kitab sebelum-sebelumnya. Didalamnya diterangkan secara garis besar semua yang ada didunia maupun yang diakherat, yang terlihat maupun yang tidak dapat terlihat, seluruh apa yang Allah ciptakan, semua terdapat didalamnya.

Dari sudut pandang itu, seharusnya masyarakat merubah pandangan terhadap santri yang sedang mencoba belajar agama, dengan santri belajar agama maka secara tidak langsung meraka juga sedang mempelajari segala ilmu. Termasuk didalamnya sastra.

Sejalan dengan pendapat Ahmad Tohari, sastra dan pesantren tidak dapat terpisahkan, pesantren memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh lemabaga pendidikan yang lain. Keunikan itu berakar dari tradisi bersastra dakan masyarakat Arab yang kemudian dirawat dan dilestarikan oleh pesantren.

Begitu juga dengan pendapat dari Iis Sugiarti, Nadzam-nadzam yang ditulis oleh para ulama maupun kitab-kitab yang dikaji di pesantren menggunakan kaidah sastra arab yang tentunya berbeda dengan konsep sastra Indonesia secara umum. Namun dilihat dari segi pemaknaannya atau esensinya adalah sama dengan penyajian kesustraan pada umumnya. Hanya saja berbeda dalam bentuk bahasa dan konsep pembentukan leksisnya.

. Tidak menuntut kemungkinan juga masih banyak di kalangan para santri yang tidak menyadari bahwa kitab yang mereka sering baca dan hafalkan merupakan suatu karya sastra. Banyak kitab-kitab yang ditulis dengan sebuah nilai estetika sastra yang tinggi, seperti nadzam al-fiyah karya Ibnu Malik.

Dan yang tulis oleh kalangan para ulama tentang keagungan Nabi Muhammad yang tertuang dalam Barzanji. Dan juga Kitab suci umat islam diturunkan dengan menggunakan bahasa sastra arab tingkat tinggi yang tidak dapat menandingi keindangan pada setiap huruf, ayat yang tersusun menjadi suatu surat dan juz dalam Al-Quran.

Bagitu pentingnya sastra dipelajari bagi para santri, menulis menjadi suatu bentuk penerapan keilmuan yang telah dimilikinya, menjadi salah satu bentuk ijtihad bagi para santri. Semakin banyak sastra yang tercipta oleh para santri maka akan diikuti pula kajian-kajian yang santri lakukan, menandakan tidak ada kemandekan dalam berfikir dalam kalangan santri.

Melihat dari sejarah, Abbasaiyah menjadi zaman keemasan karena banyaknya karya yang tercipta, namun berbalik menjadi peradaban yang lesu saat buku-buku keilmuan dimusnahkan dan dihapuskan.

Santri merupakan murid dalam suatu lembaga pendidikan yang paling dekat dengan gurunya (kiyai). Semakin dekat murid dengan gurunya, semakin banyak ilmu yang terserap didalamnya. Disaat kiyai mengajarkan sesuatu secara kangsung kepada santrinya, maka langkah yang bijak bagi santri untuk dapat menuliskan apa yang kiyainya ajarkan. Sebuah ilmu yang didapatkan akan cepat hilang jika tidak dituliskan.

Sastra menjadi salah satu bentuk wadah untuk menampung dan melestarikan suatu keilmuan. Selain itu sastra santri menjadi alat komunikasi dan alat penghubung antara kehidupan di pesantren dan masyrakat luas. Dengan santri nyastra, menggambarkan atau membungkus ilmu yang diserap selama nyantri dengan bungkusan yang dapat diterima dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat umum hingga nantinya masyarakat akan memiliki daya keingintahuan yang lebih terhadap suatu bidang keilmuan.  

Selain berkomunikasi dalam garis vertikal,hubungan antara manusia dengan manusia, namun sastra mengajarkan kepada santri untuk dapat berhubungan dalam garis horizontal. manusia dengan Tuhan, menjadi lebih harmonis. Dalam sastra mengutamakan segi keindahan bahasa, seperti halnya dalam manusia untuk berbincang (berdoa) kepada Allah, alangkah baiknya kita menyusun dengan kata-kata yang indah, dengan keindahan itu diselipkannya puji-pujian.

Tidaklah gampang untuk dapat menyusun kata yang indah apabila kita tidak mau berkenaan dengan dunia sastra. Semakin indah doa yang dipanjatkan akan lebih merasakan ketenangan jiwa kepada orang yang memanjatkan doa. Karena sejatinya pun jika belajar sastra maka santri belajar tentang sebuah perasaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *