Pondok Pena

Pondok Pena

Visi Dan Misi

Visi

“Menjadi komunitas kepenulisan sastra yang berbasis nilai-nilai agama Islam, berdaya saing internasional, dan responsif terhadap perkembangan  dunia sastra.”

Misi

Misi Studi Kepenulisan dan Sastra Pondok Pena adalah:

  • Menggali dan mengembangkan potensi menulis santri Pesma An Najah ke taraf internasional Membentuk suatu aktifitas belajar bersama yang mengedepankan pendidikan sastra
  • Memajukan kualitas setiap anggota mengenai pemahaman sastra
  • Mengembangkan kreatifitas tulis-menulis bahasa dan sastara yang Universal
  • Melahirkkan generasi penulis-penulis baru yang memiliki daya saing dan menjunjung tinggi nilai-nilai Agama.

Profil Singkat

Pada Oktober 2011, beberapa santri yang aktif dalam dunia kepenulisan mengalami puncak ketidakpuasan atas ketidakadaannya sastrawan santri muda di Purwokerto, maka dengan bismillah mereka mendirikan sebuah komunitas kecil bernama Pondok Pena, komunitas yang mempunyai mimpi untuk menjadi tonggak kebangkitan sastra santri di Purwokerto pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Berawal dari hanya beranggotakan lima orang, Pondok Pena mulai belajar untuk berdiskusi membahas karya, minggu demi minggu dilewati dengan sangat berat, karena rasa malas dan  pesimis senantiasa menggoda.

Namun, berkat istiqomah, beberapa dari mereka mulai menyatu dengan sastra: karya-karya Pondok Pena meramaikan beberapa media, baik regional, lokal, maupun nasional ataupun dengan buku-buku antologi bersama.

Akhirnya nama komunitas Pondok Pena turut meramaikan kesusastraan Indonesia sekalipun masih dalam skala sederhana, tetapi itu sudah merupakan karunia yang luar biasa.

Pada intinya Pondok Pena ingin mengajak para santri untuk gemar membaca dan menulis. Sebab reading and writing habit adalah adalah salah satu keniscayaan bagi siapa saja yang ingin memiliki ilmu yang bermanfaat.

Betapa tidak, dari mana kita mendapatkan ilmu kalau tidak suka membaca? Memang membaca adalah aktivitas yang menjenuhkan, tetapi dari hal tersebut kita bisa membaca dunia.

Lalu, jika kita telah membaca, dikemanakan hasil bacaan kita? Kalau bukan dengan mengikatnya dengan tulisan?  Selain terhadap diri untuk mengukur keberadaan diri di tengah lapangnya ilmu Allah SWT.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *