Opkis 2020

Ada Yang Berbeda di OPKIS AN NAJAH 2020

An Najah News, Purwokerto – Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto adakan pembukaan Orientasi Pesantren dan Kajian Islam (OPKIS) bagi santri baru di Serambi Masjid Pesma An Najah, Sabtu (10/10). Acara yang dimeriahkan oleh Najah Akustik mengusung tema “Menyantrikan Mahasiswa dan Memahasiswakan Santri” dihadiri oleh seluruh santri yang berada di pesantren secara luring dan diikuti oleh 128 santri baru baik putra dan putri yang hadir secara daring.

OPKIS di tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Anjaha Naufal Muhammad atau akrab dipanggil Gus Inof ketika memberikan sambutan, bahwa ada yang berbeda dalam OPKIS tahun ini, pasalnya kegiatan tersebut dilaksanakan secara live di kanal Youtube Pesma An Najah Purwokerto.

“OPKIS pada tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sebab dalam dunia yang sama tetapi dalam media yang berbeda, namun semoga kita tetap dalam keadaan yang baik dan diberkahi oleh Allah Swt.,” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Panitia OPKIS, Tanzili Rif’at, meskipun dengan keadaan yang serba terbatas  di tengah pandemi covid 19, jangan sampai menyurutkan semangat belajar kita dengan tulus ikhlas dan istiqamah. Ia menambahkan bahwa kegiatan OPKIS yang bertujuan untuk mengenalkan kegiatan dan tradisi kepesantrenan kepada santri baru ini, nantinya akan dilaksanakan selama tujuh hari ke depan secara virtual.

Adapun rangkaian acaranya diantaranya yaitu pengenalan tradisi kepesantrenan, pelatihan pegon, pengenalan adab santri, Talk Show tentang istimewanya menjadi santri Pesma An Najah dan lomba kreasi video life skill.

Tentang Mensyukuri Nikmat dan Habituasi di Pesantren

K. H., Dr. Mohammad Roqib, M.Ag, selaku Pengasuh Pesma An Najah Purwokerto memberikan wejangan kepada seluruh santri saat mau’idhotul khasanah, agar santri mampu mensyukuri nikmat yang telah Allah Swt., berikan.  Ada tiga poin inti yang beliau sampaikan dalam mensyukuri nikmat. Pertama, nikmat berada di lingkungan pedidikan Islam yang rahmatan lil alamin. Kedua, diberikan nafas yang melegakan. Ketiga, bisa berkumpul dengan sesama dan saudara.

“Mensyukuri nikmat tersebut juga berupa nikmat iman dan nikmat Islam yang telah kita terima tanpa paksaan, dan juga nikmat hidup di Indonesia yang memiliki nilai toleransi dan semangat kebhinekaan yang tinggi,” jelas beliau.

Terkait dengan pesantren beliau menyampaikan bahwa keberadaan pesantren di mata masyarakat pada umunya cukup variatif. Banyak masyarakat awam yang masih salah paham terhadap pesantren. Mereka keliru memahami pesantren seperti halnya tempat kost pada umumnya.

Pesantren hanya dijadikan ajang bisnis untuk sekadar menginap, tanpa memberikan pelajaran kepada para santrinya. Tentu pendapat demikian bertentangan dengan fakta yang ada, seperti di Pesma An Najah.

Pesma An Najah pada dasarnya merupakan pesantren yang menggunakan pendekatan pesantren salaf dan menerapkan model pembelajaran yang terkombinasi khusus pesantren mahasiswa. Para santri di sini dilatih hidup sederhana, dan diajarkan mengelola pesantren secara mandiri dimana para santri dilibatkan secara langsung di dalam kepengurusan pesantren.

Meskipun tetap saja ada beberapa masyarakat yang masih tidak sepaham terhadap adanya pondok pesantren, namun sebagai seorang Kiai harus mampu melaksanakan kewajibannya menjadi pelayan umat, mencontoh Nabi Muhammad Saw., dalam berdakwah meskipun ada saja masyarakat yang tidak suka. 

Diakhir sesi beliau berpesan kepada seluruh santri agar jangan kaget apabila ketika tengah meniatkan diri untuk berjuang dan mengurusi umat ada saja yang tidak suka. Beliau juga menekankan meskipun berbeda pendapat namun tidak boleh saling menyalahkan apalagi menyakiti. Kita harus tetap menebarkan kasih sayang dan kemaslahatan. (Daud Setiawan)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *